![]() |
| KSAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu bersama anak-anak Aceh. (Repro Bhakti Ryamizard Ryacudu untuk Negeri). |
JAKARTA | LENSANEGERI - Karier militer Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu nyaris mencapai puncak tertinggi ketika namanya mengemuka sebagai calon Panglima TNI. Namun, jabatan yang berada di depan mata itu akhirnya lepas seiring perubahan politik nasional dan pergantian kepemimpinan presiden.
Ryamizard bukan sosok baru dalam lingkaran elite militer Indonesia. Ia dikenal sebagai prajurit tempur dengan perjalanan panjang di medan operasi. Lulusan Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri) 1974 itu mengawali kariernya sebagai perwira infanteri dan terlibat dalam sejumlah operasi militer, termasuk Operasi Seroja di Timor Timur serta misi perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa di Kamboja.
Puncak karier militernya mulai terlihat ketika ia dipercaya memimpin Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) pada 2000–2002. Setelah itu, Ryamizard menduduki jabatan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri.
Sebagai KSAD, namanya sempat masuk bursa kuat Panglima TNI. Pada akhir masa pemerintahan Megawati, Ryamizard disebut menjadi kandidat utama untuk menggantikan Panglima TNI saat itu. Namun, proses pergantian kepemimpinan nasional mengubah arah keputusan politik. Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak melanjutkan pencalonan tersebut dan posisi Panglima TNI akhirnya jatuh kepada Jenderal Djoko Suyanto.
Kegagalan menjadi Panglima TNI menjadi salah satu episode penting dalam perjalanan karier Ryamizard. Ia telah mencapai pangkat jenderal bintang empat, tetapi tidak pernah memimpin institusi TNI secara keseluruhan. Meski demikian, namanya tetap tercatat sebagai salah satu figur penting dalam sejarah militer Indonesia era reformasi.
Setelah pensiun dari dinas militer, Ryamizard kembali masuk pemerintahan. Presiden Joko Widodo menunjuknya sebagai Menteri Pertahanan pada periode 2014–2019. Di posisi itu, ia dikenal dengan gaya kepemimpinan yang tegas dan pernyataan publik yang sering menjadi perhatian.
Bagi sebagian kalangan, Ryamizard adalah gambaran seorang jenderal lapangan yang kariernya dibentuk oleh pengalaman operasi dan komando pasukan. Namun, sejarah mencatat bahwa perjalanan menuju kursi Panglima TNI berhenti di tengah jalan, bukan karena kurangnya rekam jejak militer, melainkan karena dinamika politik di tingkat nasional. (Martin Sitompul)

0 Komentar